Ia mencium kembali bibirku dan mengelus rambutku.“Jangan, Dod… mama risih,” kataku. Bokep Montok Aku tahu, Dodi sangat menyayangiku.“Mama harus gugurkan, sayang!” kataku berbisik pula. Kami melakukannya setiap Senin, Rabu dan Sabtu. Dodi sudah mulai keluar rumah mencari pekerjaan. Tapi kami tak pernah sepatah katapun bercerita tentang persetubuhan kami. Sudah lima tahun lebih aku tidak merasakan penis berada dalam liang vaginaku.“Dodi, jangan, nak! Selalu termenung. Aku ingin seperti dua hari lalu,” katanya menggandeng tanganku.Aku membawanya ke belakang rumah, taman yang asri dan teduh. Penisnya yang mengeras keluar dan berdiri seperti tiang bendera. Setelah cucuku pergi sekolah, aku menyarankan kepada pembantu untuk masak apa hari ini. Aku telah memberikan kepuasan kepadanya. Kami saling memagut.“Oh, sayangku… cintaku…” bisiknya di telingaku. Puaskan dirimu, Nak. Ya ampun, tak sadar sekian jam kami bermesraan di taman belakang. Kami bercerita tentang sekolah cucuku, seakan tak pernah terjadi apa-apa.




















