Utuk-utuk anak cantik, mana senyumnya entar hilang loh cantiknya kalau nangis terus.” hiburku.“Minta maaf dulu.” rajuknya.“Iya maaf.”“Janji dulu gak akan marah-marah lagi.”“Iya janji.”“Mana jari kelingkingnya.” pintanya.Aku menurutinya dan mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.“Bram, aku laper.”“Iya, makan yok. Bokeb Laptopmu tak bawaknya entar di rumah tak benerin.”“Gak usah Bram, gak papa kok, kan aku masih ada Ipad.”“Emmm… Oh ya, kamu gak papa ta Nit di rumah sendirian?” tanyanya.“Kenapa emangnya? Nih sekarang minum air putih dulu biar sehat! Mimpi jorok ya?” serunya dengan wajah tak bersalah.“Kok gak sekalian kamu siram aku pakai bensin terus kamu bakar biar aku gak bangun selamanya.” ucapku masih kesal karena memang benar-benar sakit, bahkan aku merasa sepertinya kulit pantatku melepuh karena terbakar.“Iya, maaf..” ucapnya dengan wajah tertunduk merasa bersalah.Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya, entah apa yang ada di otaknya sehingga dia bisa punya ide untuk membakar pantatku dengan korek gas dibalik celana jeans.Mimpi indahku berubah 180° saat




















