Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Bokep SMA Untung ada tissue yang tercecer, sehinggaada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabargembira dari wanita yang menunggu telepon. Dia mau pulang dulu ngeliat orangtuanya sakit katanya sih begitu, kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, Terus dong Yang.Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..! Wanita muda itu sudah keluar sejakmelempar celana pijit. Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Pasti terburuburu. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis.Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagianlengan, kalau belum cukup kancing Bapakbapak disebelahku juga bisa. Kesempatan tidak akan datangdua kali. Alamak.., jauhnya. Kring..!Mbak Wien, telepon. Ah sialan. pintanya.Aku membalikkan badanku. Akuterpejam menahan air mani yang sudah di ujung.Bergantian Wien kini telentang.Pijit saya Mas..! Ya, seseorang toh dapat saja lupa padasesuatu, juga pada sapu tangan. Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok.




















