Aku tidak kepikir lagi untuk mengatur cahaya dengan light meter saku, pokoknya segala macam teori kompensasi cahaya sudah hilang di kepalaku karena otakku setengah sadar setengah terangsang.Tapi aku tidak perlu khawatir, karena aku mengandalkan kecanggihan kameraku yang bukaan lensa serta speed-nya ku-set mode auto. Bokeb “Please.., jangan potretin lagi deh..!” pinta Lia. Bilangnya sama si Lia cari udara segar dulu. “Ridwan..” balasku. Arahin dong..!” pintanya. Lubang vaginanya sudah basah sekali, rambutnya hitam dan setengah dicukur.Sementara di balik jeans. Untuk itu telah kusiapkan pula 10 rol film merk kodak ektar asa 100. Aku menyuruh Lia agak rebah di sofa, kemudian kedua lengannya kuangkat hingga posisinya memegang belakang kepalanya.Sambil pura-pura serius mengarahkan, aku melaba lagi, mengelus-elus kulitnya yang mulus. Babak berikutnya dia menghisap batang kemaluanku. Busyet..!




















