“Bagus, Denok. Memang dulu penampilan penari saya yang membuat Juragan kesengsem, dan memang dengan berpakaian seperti itulah saya jalani malam pertama kami. Bokepindo Dipikir-pikir benar juga sih kalau dibilang saya montok. Melamar kerja kesana-kemari, nggak diterima karena dianggap pendidikan kurang tinggi. Tapi saya acuhkan. Yang ada saya bakal diusir, nggelandang, dan…ujung-ujungnya sama saja. Tokonya sedang sepi, tidak ada pembeli.“Juragan,” pinta saya. Juragan membawa saya naik tangga di samping toko, masuk ke rumahnya. Saya si Denok, penari jalanan, semua orang di Pasar kenal saya.Siapa yang tidak kenal si Denok yang berkemben merah, berbedak dan bergincu tebal, bertahi lalat di pipi. Juragan selama ini kesepian, dan kehidupannya cuma ngurus toko beras saja.Saya jadi kasihan sama Juragan, ternyata beliau sendirian juga seperti saya. Juragan senyum di depan muka saya, sambil bilang, “Nah, itu buat permulaannya, Denok…”Dan tahu-tahu saja, Juragan sudah buka celana, dan menempelkan… menempelkan… anunya di belahan memek saya!“Aduh, Juragan…! Aduuuu!!”Juragan mendengus dan menggerung.




















