Cukup menonjol bulat, tapi jangan-jangan itu hanya model bra-nya. Bokeb Yeni terlentang dan membuka kakinya lebar-lebar. “Iya dong, Kalau ada kesempatan lagi saya ke sini dan pilih kamu lagi.”
“Ah engga usah basa-basi, pasti Mas pengin coba yang lain kan?’
Lagi-lagi, tahu aja loe! Memang inilah maksudku dengan meminta pijat di punggung. “Engga tahu dong, Mas. “Tergantung orangnya sih Mas.”
Aku sejenak ragu. Awalnya, informasi minim yang Aku dapatkan dari seorang kawan yang tinggal di Jakarta tentang massage service (lebih tepat dibilang sex service, sebetulnya) di suatu tempat di Bandung (busyet, dia yang tinggal di Jakarta malah lebih tahu dari Aku, dasar Aku masih hijau!)
“Namanya ‘ANU Message’, di jalan Otista, berseberangan dengan Pasar Baru, tarifnya seratusan sejam,” katanya. Cara mengurutnya kurang menekan, tidak seenak pemijat profesional tentu saja. Kaca nako yang dilapisi “glass film” gelap memungkinkan Aku melihat bebas ke ruangan besar itu tanpa dilihat penghuninya. Aku melepas tubuhnya. “Yeni,” katanya begitu dia muncul di pintu




















