Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Bokep Cina Tapi Abi kan manusia biasa. Subhanallah … Alhamdulillah…********Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku? Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Ucap isteriku kalem.“Iya. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan




















