Saat itu adalah detik-detik menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Namun belum sempat diriku mengeluarkan penisnya, Pak Qadar sudah terlebih dulu mengangkat tubuhku. Bokeb Penis dalam genggamanku itu kucium dan kujilat perlahan disertai sedikit kocokan. “Bentar yah Dik, bapak bersihin dulu punyamu ini” katanya seraya menempelkan mulutnya pada kerimbunan bulu-bulu kemaluanku. Cupangannya cukup keras sampai meninggalkan bercak merah selama beberapa hari. Diriku naik lift ke tingkat tiga. Sekarang kubuka mulutku untuk memasukkan penis itu. Pak Qadar membuka celana panjang beserta celana dalamnya sehingga ‘burung’ yang daritadi sudah sesak dalam sangkarnya itu kini dapat berdiri dengan dengan tegak. Seiring dengan tenagaku yang terkumpul kembali kocokanku pun lebih cepat. Kampus sudah sepi saat itu karena saat menjelang ujian banyak kelas sudah libur, kalaupun masuk paling cuma untuk pemantapan atau kuis saja. Kali ini Pak Qadar menjilati seluruh permukaannya hingga basah oleh liurnya lalu diemut dan dihisap kuat-kuat.




















