Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Film Porno Langkahku semangat lagi. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Kesempatan tidak akan datang dua kali. Tunggu apa lagi. Sekali. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Aku masih mematung. Hap. Bodoh amat. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Aku tidak berpakaian kini. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Hawin, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Apa katanya nanti? Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha.




















