Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Tidak perludiantar. Bokep indo new Iatidak lagi dingin dan ketus. Angin meneroboskencang hingga seseorang yang membaca tabloidmenutupi wajahnya terganggu.Mas Tut.. Masak tidak ada yang bisadibicarakan. Sekarang hitung penumpang angkot dansupir. Adacairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayangbayang wanita yang dilehernya ada keringat. Begini saja daripada repotrepot.Anggap saja tiaptiap baju sama dengan jumlah kancingbajuku: Tujuh. Kuusapsisa cream. ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi kebalik ruangan ke meja depan ketika ia menerimakedatanganku.Mbak Wien.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruangsebelah. Aku tersetrum. Ah apa saja. Jari tangan mulai dingin. Ia masih dingin tanpaekspresi. Lho, salon kan tempat umum. Di mana? Bau tubuh wanita setengah bayayang yang meleleh oleh keringat. Bodoh amat. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi eh.., seorang penumpang pakaikaos oblong, mati aku. Laluasyik membuka tabloid. Dadaku berguncang. Lama sekali iamemijati pangkal pahaku. Akumengikutinya. Aku harusmemulai. Lalu ngomong apa? Aku masih ingat sepatunya tadi




















