Di atas gundukan itu, tangan nenek masih bercokol, menutupi sebagian ujungnya. Di bawahnya, ada lobang yang aku sendiri tak tahu seberapa dalam, karena aku tak berani memasukkan jariku ke dalamnya. Bokepindo Uhh,” ia mendesah. Aku benar-benar menggigil saat itu. Dan setelah hidungnya mengendus-ngendus, kembali tangannya menelusup. “Coba dari tadi cara mengusapnya begini, Mbak nggak akan merasa sakit,” bisiknya lagi nyaris tak bisa kudengar, karena suara hujan yang di tingkahi gelegar petir, terkadang membuat pembicaraan kami sering terinterupsi. Jangan terlalu dekat, nanti rambut Mbak kebakar,” tentu saja ucapannya hanya bercanda, tapi tetap saja aku kaget di buatnya, hingga tak kusadari aku secara reflek menjauhkan lampu teplok itu dari meja. “Neng, sini dong, kumpul sama kita-kita, soalnya aku.. “Essh.. Dan setelah hidungnya mengendus-ngendus, kembali tangannya menelusup. Biasanya, mereka sambil bersiul di tempat mereka nongkrong, mengeluarkan kata-kata yang jorok, hingga seringkali Mbak Sekar hampir menangis bila kebetulan lewat dan di goda secara keterlaluan oleh mereka.




















