“Cinta..?” aku mendesis tak mengerti.Entah kenapa Lidya tersenyum. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Bokep Family Bahkan aku tak protes ketika Lidya mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku. Sedangkan aku sendiri sama sekali tak peduli, tetap menganggapnya hanya kawan biasa saja. sehingga tak ada selembar benangpun yg masih melekat di sana. Dia menarik tanganku dan menaruh di atas pahanya yg tersingkap Cukup lebar. Tak ada yg istimewa. Lidya bersama Mamanya yg umurnya mungkin sebaya dgn Ibuku. Hanya saja Bapak belum bisa membelikannya. Lidya melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tak percaya kalo aku sama sekali tak bisa apa-apa.“Kenapa diam saja..?” tanya Lidya merasa kecewa atau menyesal karena telah mencintai laki-laki sepertiku.Namun tak.., Lidya tak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru dia mengembangkan senyuman yg begitu indah dan manis sekali.










