Temanku itu mulai menyelusupkan tangannya ke balik celana dalamku yang berwarna kuning muda.Dia mulai meremas-remas kedua belah gumpalan pantatku yang memang montok itu.“Ouh Ouuh Jangan, Don! Jangan! Bokep India Masa belum apa-apa udah mau pulang. Itupun masih jarang sekali.Bahkan ke diskotik pun aku hanya pernah satu kali. Aku pun langsung menelan obat sakit kepala yang diberikannya.“Gimana sekarang rasanya? Gue kasih elu obat penghilang pusing.”Temanku itu memberikanku tablet yang berwarna putih. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Kurasakan ia memapahku keluar diskotik. Ibu jarinya mengurut-urut klitorisku dari atas ke bawah berulang-ulang. Lalu ia menjalankan mobilnya ke sebuah motel yang tidak begitu jauh dari tempat itu.Setiba di motel, temanku memapahku yang terhuyung-huyung masuk ke dalam sebuah kamar. Kurasakan ia memapahku keluar diskotik. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempat-tempat seperti itu lagi.Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun




















