Kugosok-gosokkan mukaku ke situ. Bokepindo “Sebentar ya.” Windy berdiri, ke arah lemari kecil. Aku menungging sekarang, memperlihatkan dengan jelas kedua lubangnya di cermin.Ratih duduk bergeser, ikut memperhatikan apa yang tampak di cermin. Kubantu Windy mencapai ujung pencapaiannya hingga terasa sampai energiku habis kuekspose malam itu. Agak bergeser sedikit, ia sekarang mengangkat kedua kakinya di meja lebar itu. “Lu gila ya Windy, cerita detail begitu ke gue?” tanyaku perlahan sambil tersenyum. Kuraih kursi dan kuajak dia berlutut sementara aku duduk di kursi itu. “Haaah!! Saat akan berdiri, kutahan tangannya, sambil tersenyum aku berkata, “jangan ributlah, toh punya kita sama.” Suaraku menenangkannya. hah!! Kemudian diam tak bergerak, kecuali nafasnya naik turun seperti berlari kecil.Tanganku sudah diam sekarang. Wanita berambut pendek seperti lelaki itu menangis di tepi tempat tidur, kedua tangannya terikat di satu sudut atas tempat tidur.




















