Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Bokeb Syeni sudah turun dari pembaringan. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Hmmm .. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Oohh . Jelas juga, gejalanya khas disentri. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati. Saatnya mempercepat pompaan. Sungguh pemandangan yang amat indah . Engga apa-apa kok. “Yang mana Bu benjolan itu ?”“Eehh . Indah apanya Dok?”.Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu. Mendadak aku berdebar-debar. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Melepas. Ohh nikmatnya .. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Syeni rupanya tahu kebingunganku.




















