Karena kami keluarga, maka dibuatlah pintu penghubung ini,” aku bicara gugup.“Namamu siapa, sih?” Tanya Mbak Marissa.“Mirza!”“Ah, huruf depannya sama-sama M dengan saya. Bokep Jilbab/Hijab Ia menghelaku ke kamarku dan menjerembabkan aku ke tempat tidur. Dan akan makin panas dingin aku dibuatnya kalau ia bekerja sore-sore di depan rumah itu denga tank-top dan celana pendek yang menampakkan dua pahamulusnya yang jenjang.Dua minggu setelah kepindahan mereka, Mbak Marissa mengantar Fredi suaminya naik taksi di depan rumah. Ia memberikan foto kopi KTP dan kartu keluarga kepada ayahku. Tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang rumah. Mbak Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan beringas berkali-kali.“Kamarmu! Entah kenapa aku jadi ketakutan. Sudah biasa! Kulihat dalam remang ia menggigit ujung bibirnya. Mbak Marissa membalasanya. Mbak Marissa berdiri di situ, dengan tank-top dan celana pendek favoritnya, yang sekarang jadi favoritku juga.“Hei, ada pintu tembus, rupanya!” celetuknya riang. Bibirnya merekah, pipinya merona dan pandangan
matanya benar-benar membuat dadaku berdebar-debar.“Perkenalkan, nama saya Fredi




















