ya sudah ayo kita jalan…” aku menutup perdebatan dengan tetap kolorku masih di lutut.“Kita jalan ya mbah” aku menarik tangan mbah Suliyem yang terasa kaku dan berat karena ada penolakan darinya, meski tenagaku lebih kuat pada ahkirnya …. Bokep Jepang Mbah Suliyem hanya diam, tak berontak dengan kelakuanku padanya dibawah sinar lampu neon 5 watt sebagai penerang ruang utama di rumahnya. Mbah Suliyem berusaha mengahkiri perdebatan kami di jalan.Kali ini aku sudah pasrah dan kurasa memang tidak ada yang perlu diperdebatkan, apalagi setelah kulihat alroji ‘swiss army-ku’ sudah menunjukkan jam sembilan malam. kali ini aku mencoba bersabar dan mengontrol emosiku, selain detak jantung dan nafsu yang aku coba kendalikan.Kutepikan pikapku dan menaikkan kembali celana kolor pada tempat semestinya sambil kulihat wajah mbah Suliyem yang menunjukan perasaan lega.










