Iya aku datangdasar tikus hutan . Dan aku pun membalas senyumannya. Bokepindo tambahku lagi. Aku hanya bisa memanggil namanya lirih. Kubawa piring dan gelas kotor ke dapur, aku letakkan di dalam bak pencucian. Aku sudah begitu terangsang, tanganku, entah sejak kapan juga sudah mengobok-obok vagina dan klitorisku. Dibuang sayang, di letakkan di bak cucian pun khawatir aku akan curiga. Sebenarnya aku tahu kalau yang mengalir turun dari dalam pahanya tuh bukan sabun, melainkan spermanya sendiri yang tak tertampung di cd putihku yang ia kenakan. Melihat aku yang hanya diam saja, mas Manto pun mengangkat talapak tanganku dan dikecupnya perlahan. Sampai-sampai cd putihku yang ia gunakan untuk menampung tumpahan cairan nafsu mas Manto, tak mampu membendung itu semua. Aku ambil air dengan gayung, lalu aku lemparkan air itu ke badannya.




















