Mata ke televisi tapi pikiran dan badan masih terasa melayg, belum mendarat setelah tadi terbang berkali- kali.“Sayang…”
“Ya tuan?”
“Lho, kok tuan?”
“Yaaa… kan saya pembantu…”
“Tapi aku cinta padamu!” Aku menunduk.Aku juga cinta pada tuanku… Tapi aku duduk di tempat berbeda.“Saya masih tetap hanya pembantu.”
“Aku tdk peduli! Bokep Jepang sekali lagi tangan yg kekar itu memegang pinggangku yg ramping erat-erat, menekan tubuhku ke bawah. Kak Edo bangkit, berdiri ke samping ranjang. Aku merasa penis itu menerobos masuk kembali ke vaginaku yg sempit. Benihnya, keluar lagi semua. Tunggulah, ya? Melesak. Ah, khayalan yg tdk akan pernah terwujud… tapi kukira aku masih boleh berkhayal, bukan? Masih belum bersih. Tubuhku terbaring. Kak Edo dengan senang mengusap-usap vaginaku yg kini jadi licin.“Hehehe…. Darah mensku nampak tdk sekental biasanya… aku menemukan ada sisa lendir Kak Edo, yg sebelumnya dibenamkan dalam. Tapi sekarang, kalau boleh saya ingin melayani Kakak…” Aku mengangkat wajah.Menatap wajah tampan itu, menjadi Arjunaku dalam hidup. Aku duduk di atas




















