Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Bokeb Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Aroma asli seorang wanita. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Ke mana ia? Lalu pijitan turun ke bawah. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus.




















