Aku hanya main dengan tangan. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Film Porno Satu dua, satu dua. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Membuang napas. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Mobil melaju. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Ke bawah lagi: Tidak. Masih ada waktu bebas dua jam. Ah. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Aku berhasil. “Ini..?” kataku. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Makin lama makin jelas. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju.




















