“Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?”
“Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang.”
“Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku..”
“Lalu? Bokep Indo ah..” Nia masih mengerang-erang di bawahku. Aku menjadi bingung, keringatku keluar dari dahi dan sekujur tubuhku. Ahh, kuelus dan kuraba pahanya tanpa memperdulikan tatapan matanya yang setengah terbuka, menatap protes atas perlakuanku kepadanya. Ahh, nikmatnya. sori aku sedikit emosi.”
“Hmm.. mungkinkah Nia merasa iri atas keberhasilan Enni mendapatkanku? Ray.. nggak apa-apa. mm.. Nia..” jawabku. “Iya deh, jangan pulang malam-malam okay.”
“Yop.”Kuletakkan gagang telpon ketempatnya semula, mengambil celanaku dan berpakaian. mm.. Gila, aku tahu kamu protes atas ucapanku, hahahaha. Kutaruh kembali botol Vicks 44 itu ke dalam saku jaketku, dan memacu gas mobil menuju ke rumah Nia.—————————————————Kugerayangi buah dadanya, menciumi puting susu-nya, melumat bibirnya, meraba selangkangannya, “Ahh.. “Memang anaknya seperti itu, Ray?” lanjutnya. Kuangkat tubuhku, menatap kemaluanku yang mulai agak lemas.




















