Ia malah melengos. Bokep Jilbab/Hijab Alamak.., jauhnya. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Ia tidak lagi dingin dan ketus.Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Lho, salon kan tempat umum. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Hawin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Hawin kembali ke tempatku. Dingin. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Aku masih mematung. Lalu asyik membuka tabloid. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Aku masih mematung. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan.




















