“Apa itu mas?”,bisik Merry sambil turun dari tempat tidur, merapikan bajunya dan menggelung rambutnya.“Tunggu aja di sini ma”, jawabku sambil ikut turun menengok ruang tengah yg kebetulan masih terang karena lampu besar yang masih menyala itu. Bokepindo Wok tampak perlahan mendekati bagian bawah ranjang, lalu dengan perlahan pula tubuhnya mulai menindih tubuh Merry yang tampak meronta dan meregangkan tubuhnya mencoba untuk menghindar. Aku juga berusaha berontak tetapi ikatan di kursi ini membuatku tak bisa bergerak sama sekali, ditambah rasa pusing akibat kebentur di lantai masih membekas terasa sekali di kepala.“Muuacchhh..muaacchhh…kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik”,cuma itu yang terus kudengar dari Wok, sementara Merry masih meronta ronta liar kegelian sambil meracau tak karuan.Hampir lima menit itu dilakukan Wok kepada Merry, hingga akhirnya berhenti. Dan Merry nampak langsung terkulai dengan lemasnya.“Ayoooo…keluar sekarang”, teriakan komandan yang sudah memanggul karung yang jelas berisi uang dari brankas.“terima kasih yha….”, bilang komandan pada aku Dan komandan nampak menghampiri




















